categories
calendar
June 2014
S M T W T F S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
archives

Nama   : Yuliana Mafiroh

NRP    : H34100144

Laskar : 24

Berjuang dan Bersyukur

 

            Cerita ini berkisah tentang guru saya yang sering kali memberikan motivasi kepada anak didiknya. Beliau adalah guru mata pelajaran fisika bernama bapak Guntur. Beliau adalah guru fisika kesukaan kami karena cara pengajarannya yang lebih baik dari guru fisika lainnya. Di saat para murid jenuh untuk belajar atau saat muridnya mendapat nilai jelek, beliau memberikan motivasi untuk kami para muridnya. Beliau menceritakan perjuangan hidupnya saat masih di bangku sekolah dulu.

            Pada waktu di banku SD, beliau harus berjalan jauh untuk mencapai sekolahnya. Beliau harus berangkat sekolah pukul 04.00. ternyata apa yang biasa saya lihat di iklan TV itu adalah benar-benar ada. Lelah tidaklah menjadi permasalahan dan membuatnya patah arang. Saat di rumah, selain membantu orang tua, beliau juga rajin belajar. Padahal pada waktu itu belum ada listrik di desanya. Beliau harus belajar dengan pencahayaan lentera yang remang-remang.

            Keluarga beliau bukanlah keluarga yang berkecukupan, namun  dengan itu menjadikan beliau untuk rajin belajar dan tidak mengecewakan orang tuanya yang telah banting tulang untuk mencari biaya sekolahnya. Dalam kondisi keuangan keluarga yang jauh dari cukup, Ayah yang amat dicintainya meninggal dunia. Itu adalah pukulan yang sangat berat bagi guru saya. Namun beliau tetap malanjutkan sekolahnya. Beliau juga bekerja sebagai loper koran sebelum berangkat sekolah karena uang yang dihasulkan oleh ibunya yang hanya tukang cuci serabutan tidaklah cukup untuk menghidupi keluarganya dan biaya pendidikan guru saya beserta kedua adiknya. Dengan usaha yang gigih, beliau mendapat prestasi yang bagus dan selalu mendapat beasiswa hingga di universitas. Beliau melanjutkan kuliah di universitas keguruan di Jakarta dan mengambil jurusan Fisika. Beliau ingin menjadi guru karena pengalamannya sewaktu sekolah dulu. Beliau ingin mencerdaskan bangsa. Hingga kini ia menjadi guru tetap di usia yang masih lumayan muda yaitu 27 tahun. Beliau tidak menyangka kehidupan yang sekarang sangat jauh dengan kehidupannya sewaktu kecil dulu.

            Setiap habis mendengar cerita dari guru saya, saya langsung semangat belajar dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang saya punya. Karena tidak semua orang memiliki kesempatan untuk bersekolah dan tidak semua orang bisa menikmati hidup seperti saya sekarang. Saya menjadi lebih menghargai dan mensyukuri apa yang saya punya sekarang walau tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Tidak Ada Pilihan yang Salah Jika Dijalani Sepenuh Hati

 

Sewaktu saya baru masuk SMA, saya dihadapi pilihan untuk memilih ekstrakurikuler yang wajib untuk dipilih salah satunya. Saya bingung untuk memilih ekskul apa yang harus saya pilih karena saya belum tahu bakat dan minat saya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya menjatuhkan pilihan saya pada ekskul jurnalistik, karena saya ingin menggali bakat saya di bidang jurnalistik dan berharap akan dapat bermanfaat di kemudian hari.

            Hari pertama saya mengikuti ekskul ini sangat menyenangkan. Senior yang menyenangkan dan peminatnya pun banyak. Saya berpikir bahwa inilah yang saya inginkan. Pada pertemuan berikutnya tugas-tugas diberikan sesuai profesi apa yang diinginkan dalam ekskul ini. Saya yang ingin menjadi reporter diberikan tugas untuk mewawancarai senior di luar ekskul jurnalistik. Setelah mewawancarai, sya diberikan tugas untuk membuat laporan hasil wawancara. Saya melakukan dengan senang hati.

            Pada bulan-bulan selanjutnya saya merasakan perubahan sifat pada senior yang semakin keras. Kami (junior kelas 1) merasa terlalu terikat dengan ekskul ini.  Tugas-tugas pun semakin menumpuk dari membuat madding hingga meliput acara yang ada di sekolah. Saya tahu alasan para senior yang tegas dan keras agar kami tidat telat dari deadline yang ditetapkan. Namun bagi kami yang terbiasa dengan dunia SMP merasa perlakuan senior terhadap kami yang terlalu menekan sudah keterlaluan. Jika salah satu dar kami mempunyai kesalahan maka seluruhnya harus menerima hukumannya, itu semua dikatakan senior atas asas kebersamaan. Seiring berjalannya waktu jumlah junior semakin berkurang, dari jumlah yang mencapai 60 orang berkurang menjadi 17 orang. Namun, saya yang  merasa sudah tidak tahan lagi, masih bertahan dengan alasan bahwa pengorbanan saya pada beberapa bulan terakhir akan sia-sia jika harus berhenti karena sebentar lagi kami akan naik ke kelas 2 yang berarti kami akan terbebas dari tugas membuat madding.

            Ternyata dugaan saya salah, saat kelas 2 saya dihadapi oleh pebuatan majalah sekolah. Membuat  majalah yang lebih rumit dan menyita lebih banyak waktu disbanding membuat madding membuat saya kewalahan. Belum lagi tekanan yang saya alami lebih besar karena saya mengalami tekanan dar senior kelas 3 yang menuntut kesempurnaan dan tekanan dari kelas 1 yang susah diatur dan terkadang mangkir dari tugasnya. Dengan tekanan yang semakin banyak, anggota kami berkurang lagi menjadi 12 orang.

            Namun dengan berpindahnya jabatan ke tangan kami bukan berarti saya bisa santai dan berlaku seenaknya. Malah tanggung jawab terhadap majalah dan ekskul jurnalistik semakin besar. Waktu saya semakin tersita sehingga orang tua saya tidak setuju dengan kegiatan jurnalistik yang saya lakukan sehingga dapat mengganggu pelajaran saya di sekolah. Menurut mereka kegiatan jurnalistik saya hanya menghabiskan waktu, uang dan tenaga. Namun saya tetap bertahan, saya memberikan pengertian ke orang tua saya kalau saya akan mempertahankan prestasi saya walau saya masih berkegiatan. Untuk meningkatkan semangat saya, saya memiliki prinsip bahwa Allah memberikan ujian sesuai kemampuan umatnya.

            Dengan tekad yang kuat saya meyakinkan orang tua saya bahwa semua yang saya lakukan tidak sia-sia. Saya membuktkikannya dengan memenangkan beberapa perlombaan seperti lomba madding, lomba debat dan lomba menulis cerpen. Prestasi saya di sekolah pun cukup membanggakan walau bukan yang nomor satu.

            Saya mensyukuri pilihan saya, walau dahulu saya merasa pilihan saya adalah pilihan yang salah. Mungkin bila dahulu saya menyerah dan berhenti di tengah jalan mungkin saya tidak mempunyai prestasi yang membanggakan di bidang non akademik, mungkin saya tidak akan punya teman-teman yang setia yang selalu ada di suka maupun duka, dan tentunya saya tidak akan memiliki kemampuan dalam jurnalistik yang tentunya masih berguna sampai sekarang.